Sabtu, 28 Januari 2017, Hari keempat kami di Bali, seperti biasanya setelah bangun tidur langsung Mandi, dan mandinya saling nunjuk siapa duluan, bahkan dihari sebelumnya si Evita pake acara kopyokan siapa yang harus mandi dulu wkwkwk dan yang kena Adit... hahahahahah....  Setelah mandi, tidak seperti biasanya yang sarapan dulu, tapi kita langsung berangkat, yah di liburan kali ini, bener-bener tidak sesuai rundown yang telah dibuat, karena selain rundown yang terlalu rakus dan gila, juga karena kondisi supir yang labil kesehatannya wkwkwk, jadi aku hanya bilang terserah Adam, karena dia yang  nyetir dan sekuatnya kemana hehe, begitu juga Cindy yang terserah ae, nek arek iki pokoe wareg iso turu enak wkwkwk dasar welut Bogangin LOL, nah kalau si Evita Wongso menurutku dia ngebet banget ke Danau Kintamani, hmmm padahal kalo aku pinginnya yang deket aja, pokonya dinikmatin hehe kalo jauh-jauh, nggak enaknya capek dijalan, tapi si Adam juga pengen ke Danau Kintamani, hmmm, yaudah deh, my feeling bilang kalo ke Danau Kintamani pastinya seharian cuma kesana aja, soalnya jauh jaraknya dari hotel sekitar 65km, hmm belum lagi medan jalan yang naik turun, yeaaahh pasti capek butuh istirahat..
Langsung setelah mandi bergegas berangkat pagi-pagi sekitar pukul 7 WITA, cus ke Danau Batur, Kintamani yang letaknya di Kabupaten Bangli, sebelah Timur Laut Pulau Bali, melewati Jl. By Pass Ngurah Rai, lanjut Jl. Prof. Dr. Ida Bagus Mantra  dan melewati Bali Safari dan Marine Park (Cuma lewat aja wkwkwk), dengan perut keroncongan belum makan, namun perjalan masih jauh, jalan yang tadinya besar, kemudian melewati jalan dengan pemandangan kanan kiri hamparan sawah hijau nan sejuk, dan melewati perkampungan di Gianyar, dengan rumah khas bali yang tidak ditemukan di Jawa hehe, dan melewati jalan yang lurussss banget, meski kadang sedikit nanjak tapi disini jalan aspal masih bagus dan belum berkelok-kelok hehe, selama perjalanan kami mengemil kering tempe kwkwkwkw saking tak kuat menahan lapar hahaa dan makan makanan ringan lain yang paling tidak cukup mengganjal perut hehe, sesampainya di depan Museum Geopark Batur (hanya lewat aja) jalan mulai curam dan berkelok kelok, tapi jalannya bagus mulusss, tapi tetap waspada, rem berperan disini, sebelum turunan melewati pemandangan yang sangat menakjubkan hamparan bukit dan Danau Batur yang megah yang diitari oleh rumah-rumah mungil, dan udara yang dingin serta menyejukkan, dapat dirasakan disini... Dibawah ini, foto-foto di Danau Batur, Kintamani :
meratapi nasib

dibuat senang

foto gupuh

siji loro telu, cekrek

kalo ini sebelum nyampe masih diatas

wahh ada pura disini
Namun sayangnya kita tidak sempat turun, karena gupuh pengen ke danaunya hehe... dan jalan berkelok-kelok nan curam dilewati untung supirnya udah jago hehe, sebelum sampai di bibir danau juga dijumpai pemandangan gunung batur di sebelah kiri yang dihiasi batu-batu besar berwarna coklat yang indah dan danau batur disebelah kanan. Akhirnya nyampai juga di Batur Natural Hot Spring, yang merupakan tujuan kita dengan mengetik Danau Batur di GoogleMaps, malah diarahkan disana wkwkwk, nyampai sekitar pukul 10.45 WITA disana parkir gratis lhoo namun ternyata harus membayar untuk tiket masuk ke Hot Springnya dan harganya lumayan mahal (lupa hehe) yah ngga jadi masuk kita, tapi kita ditunjukkan jalan menuju ke danaunya, disebelahnya, ketemu orang-orang dengan banyak mobil seperti di bengkel, tanya orang disana ternyata bukan jalan itu tapi di sebelah lagi, dan itu bukan seperti jalan umum wkwk, jalan yang sempit dan tak terawat (maklum juga gratis) sedikit turunan dan terdapat pintu besi berkarat diujungnya, dan taraaa, kita membuka ternyata benar itu pinggir bibir Danau Baturnya hehe, yahhh sedikit kecewa sih soalnya pemandangannya nggak Full, mungkin harus masuk di Hot Springnya kali ya hehe, tapi ya lumayan lah buat objek foto disini, ada sisa rumah tak berpenghuni dan juga ada tali tambak buatan hehe, tapi udara disini sangat sejuk dan asri hehe..
Tidak lama kemudian setelah foto-foto kita langsung balik lagi, eits, disini juga ada beberapa penjual oleh-oleh khas danau batur, tapi kita ngga beli hehehe kita langsung masuk ke mobil dan hmmm balik lagi, dan turun sebentar foto-foto di batu-batu besar dengan background gunung batur yang cukup keren, perpaduan warna coklat dan hijau unchh... tapi terik matahari disini cukup terasa hehehe, udah siang juga soalnya heheh.... Dalam perjalanan balik, kita kebingungan mau kemana, haha, rundown benar-benar tidak terpakai, bingung ingin ke Pura Besakih, Desa Panglipuran, atau ke Trunyann (ini ide dari Adam Begundhal) hmmm, seperti seblumnya aku hanya diam dan sebenarnya dalam hati pengen langsung ke Panglipuran soalnya selain sejalan juga katanya bagus buat spot foto karena disana bali banget. Tapi ya semua terserah si sopir hehe, Adam berkata “He rek rugi, nek kene wes adoh adoh, gak nang Trunyannn, padahal wes cedek sisan iki” Hmmm, aku hanya terdiam soalnya yang aku baca di Blog-Blog disana harus menyebrang menggunakan perahu/boat untuk sampai ke Pekuburan Trunyan yang terkenal itu.
Namun si Evita dan Cindy yang aku lihat sedikit ragu-ragu juga untuk mengiyakan si Nyai Adam untuk menuju Trunyan, tapi akhirnya mengiyakan untuk ke Trunyann, jreng jrenggg,,  Ghrrrr... arah ke trunyan dan danau kintamani juga memang berdekatan, di jalan awal masuk ada pertigaan, untuk ke Danau Batur Hot Spring arah ke kiri sedangankan Desa Trunyan arah kanan, dan di perjalanan balik akhirnya kita lurus ke arah DESA TRUNYAN, dorrr... Memang Desa Trunyan juga letaknya di bibir danau, namun beda letaknya, kalau Trunyan disebelah Timur, sedangkan Hot Spring disebelah barat dari danaunya. Awalnya, jalannya masih bagus seperti biasa namun sedikit ada jeglongan (lubang) bikin goyang wkwkwk, dan awal masuk sudah dihadang orang sana, dan bertanya “mau kemana?” dan dengan jujur menjawab “mau ke trunyan pak”  wkwkwk langsung dijawab “oh iya, langsung ikuti jalan aja mas” hehe aku kira ada apa hehe, ternyata Cuma kepo tu bapak.
Jalan yang makin menyempit dilalui, namun masih bisa mobil melewatinya dan apabila berpapasan, harus sedikit miring sih hehe, tak lama kemudian tiba-tiba di tikungan mau belok kanan, ada orang memakai udeng putih dan berbaju putih pula, seperti memang warga setempat dengan mengendarai sepeda motor bebek, menghampiri kami, dan mengetuk kaca mobil, dan bertanya “mau kemana mas? Trunyan ta?” dan dibukalah kaca mobil dan dijawab “iya, kita mau ke Trunyan bli”, dan ternyata dia menjawab “iya udah ikuti saya aja”, sontak kita kaget dan ada rasa ketakutan padahal kita ngga meminta untuk di arahkan, soalnya memang jalan Cuma satu dan ada GoogleMaps juga, tapi dia tiba-tiba maksa biar kita ikutin dia, wkwkwk sungguh hatiku sudah tidak enak, udah jauh dari jalan besar, karena memang letaknya terpencil hanya ada satu jalan. Dengan rasa takut dan deg deg an, kita menutup kaca rapat-rapat dan si Evita bilang “duh yoopo seh, wong iku, wes dam pelan-pelan no ae ben wonge bablas disek, kene lo gak njauk di dudui” Adam langsung “lho yoopo seh vit, wonge lo tolah toleh ndelok i kene, lho kan wonge mbalek mrene”, dengan ketus Cindy jawab “hala dam wes tala gausah diurus, pelan-pelanno ae”, dan Adam menyuruhku searching di blog-blog tentang perjalanan ke Trunyan, aku pun langsung search.
Ternyata eh ternyata, memang kalau mau ke arah Trunyan, kita dipaksa untuk mengikutinya, ibaratnya dia mencalokan diri jadi guide kita, meskipun kita ngga minta. Cari juga berapa tarif yang akan ditariknya, tapi ngga nemu-nemu, kita ketakutan sendiri, karena juga takut ditarik tarif mahal. dan di tengah perjalanan ada ibu-ibu warga setempat lagi berkumpul di pinggir jalan, nah langsung, kita berhenti dan si Cindy turun dari mobil dan menanyakan ke salah satu ibu tadi tentang siapakah bapak-bapak yang menggiring kita tadi, dengan pertanyaan bahasa Indonesia, eh si ibu menjawabnya dengan bahasa bali yang jelas si Cindy ngga ngerti dan si Cindy bilang “koyoke wong iku ngomong emang wonge nge guide kene kok” dan tiba-tiba bapak tadi balik, kearah kita dan menghapiri ibu-ibu tadi dan kata Cindy ibu tadi bilang ke bapaknya “koyoke arek-arek iki wedi pak” wkwkwk. Dan bapaknya menenangkan kami dan gapapa ikuti aja saya hehe. Makin lama jalanan pun makin bikin horor suasana, jalan makin becek dan makin curam, menanjak.
Yah, meskipun suasana horor, ternyata ada mobil yang juga balik dari Trunyan hmm sedikit lega lah. Perjalananpun masih terasa tegang ketika jalanan kok makin menanjak dan becek pula, dan tragedi pun terjadi ketika menanjak, tiba-tiba mobilnya terhalang batu dan tidak bisa nanjak, alhasil mobil mundur dan semua yang ada di mobil spot jantung dan si Adam juga kebingungan karena rem tangan juga ngga mempan, mobil makin mundur, apalagi belakang itu jurang, karena ini tanjakan juga tikungan, untung disana banyak motor yang menunggu dibelakang mobil dan ada orang lain yang memang lagi ngatur jalan, dengan instruksi si bapak pengatur jalan itu, si Adam masih kebingungan dan ketakutan menggunakan rem tangan, rem kaki dan setir, karena dalam posisi mobil miring 60 derajat hmmm.. aku hanya bisa berdiam dan berdoa, si Cindy perutnya langsung kram wkwkwkwk antara lapar dan tegang LOL, “he dam aku mudun ae yo” diucapkannya berkali-kali, sebegitu takutnya dia wkwkwkwk. Setelah menginstruksi, si bapak tadi bilang “bapak ini itu kayak Ustaznya di sini” sambil menunjuk bapak yang meng guide kita, hmmm... dan Alhamdulillah, ngga sampai terperosok, dan mundur dengan selamat dan langsung gigi 1 dan tancap gas, ngeennggggg.... dengan penuh harapan dan perut di tahan (biar enteng maksudnya wkwkwk) dan akhirnyaa nyampe juga diatas hehehe, namun turunan dan tanjakan masih ada lagi, tapi tak se horor yang tadi.
Selain jalan naik turun dan berkelok, diperjalanan juga disuguhkan pemandangan Danau Batur dari sisi Timurnya, dan ada warga yang memancing disana. tak lama kemudian akhirnya sampai di Desa Trunyaaann.. jreng jreng...  Menurutku sih, yah kalau desanya, biasa aja, bahkan rumah-rumahnya rata-rata tidak seperti rumah di bali pada umumnya, dan kita diarahkan didepan salah satu rumah warga dan berhenti, lalu bapak guide tadi bilang “ini sudah sampai di Desa Trunyan, dan kalo masnya ingin ke Pemakanannya tanyakan ke bapak ini” sambil menunjuk orang yang menurut saya dia sebagai sales wisata tersebut wkwkwk Bapak sales mengatakan “kalo mau ke pemakanan trunyan, harus menggunakan kapal atau boat”, kami langsung to the point bertanya harganya wkwkwk, kalau di internet mengatakan boatnya 50 ribu per orang, eh ternyata jawabnya salesnya “per orang 175 ribu untuk lokal dan 375 ribu untuk asing” beuhh sontak kita langsung saling memandang karena mahal banget, hanya untuk ke kuburan aja segitunya hmmm... Dalam hatiku sih menyesal ya kesana, udah jalannya makan waktu lama, terus juga banyak orang yang nggajelas, udah gitu bayar masuknya mahal lagi hiksss... Cuma ini di Desa Trunyann :
muka muka kecewa (abaikan yang belakang)

noh itu boatnya yang mahal beud

ini rumah-rumah di desa trunyan

katanya pekuburannya dibalik tu bukit

tambahan aja











Dengan lambe khas kita cetus aja si Adam, “oh kirain 50 ribu per orang” wkwkwk sales itu langsung ketawa oh nggak bisa mas, 175 itu udah termasuk pulang pergi boat, tiket masuk kuburan (wkwkwk baru tau kuburan ada tiket masuknya), jasa guide disana, biaya untuk pemberdayaan warga sekitar dan dana APBD, DLL (lain-lainnya gajelas) dengan mendengar angka segitu yah otomatis kita cuma mringis dan geleng-geleng kepala aja haha. Ketika itu hujan gerimis terjadi semakin membuat sedih juga wkwkwk, di PHP in Trunyan, tak lama kemudian datang wisatawan dengan no pol mobil “L” juga wkwkwk dari Surabaya juga, dan merekapun ditawari 175 ribu juga, dan sama saja mereka ngga ke kuburan juga karena sangat mahal, apalagi mereka berbanyak orang wkwkwk. Yah, sepertinya memang wisata ini masih belum tetap harganya, dan masih dikelola warga sekitar, karena ketika kita berfoto-foto di desa tersebut dan foto juga danau baturnya, sales itu sering menghampiri dan menurunkan harga wkwkwk, dari yang tadinya 175 ribu per orang, turun jadi 150 ribu terus jadi 125 ribu, dan ketika kita mau balik ditawarin dengan harga 100 ribu per orang, yah kita tetep ngga mau, ekspektasi kita Cuma 50 ribu per orang kok heheh..
Sebelum masuk ke mobil, dengan obrolan bersama kita sepakat ngasih 20 ribu ke bapak guide paksaan tadi, yahh meski dikit yang penting ikhlas lah, dia juga cari duit buat anak bininya wkwkwk, pas dikasih ke bapaknya, malah dia bilang “ikhlas ta ini?” hmmmm dengan perasaan ngga enak merasa di remehkan ya, ya kita memang ngasih itu ikhlas pakkk.. ihh, untungnya dia ngga ngasih tarif wkwkwk, jangan sampai deh kita nanya berapa hahaha... Langsung kita masuk ke mobil, ketika menghidupkan mesin mobil, tereng tiba tiba bapak paruh baya menggunakan krak, menghampiri dan mengetuk kaca mobil, dengan ekspresi menakutkan dan wajah seram membuat kita kaget dan merinding disko. Ketika kaca mobil dibuka, bapak tadi tiba-tiba menadahkan tangan dan berkata “Parkir!” dengan nada ketusnya, dan dijawab berapa pak?, “Sepuluh ribu!” jawabnya... hmmmm gajelas memang orang kita diarahkan untuk berhenti disitu, nggak ada tulisan parkir 10.000 atau nggak dikasih karcis parkir, eh pas mau balik ditagih, hiks gils, namanya pemerasan ini, meski cuma sepuluh ribu doang sih. Dan padahal kita juga ngga jalan jauh-jauh, cuma didepan mobil, kita juga selalu ngelihat mobilnya. Beuh, emang GJ kok. -_-

ini pasar utamanya

jangan mikir aneh-aneh
Akhirnya dengan kekecewaan yang mendalam wkwk, kita balik, waktu udah pukul 1 siang, dan ketika balik ngga di guide lagi wkwkwk, dia langsung balik sendiri, hahah berlaku cuma berangkat aja ternyata, dan perjalanan balik alhamdulillah aman, meski melewati jalan yang sama. Perjalanan panjangpun ditempuh, dengan jalan sedikit berbeda dengan berangkat ke Danau Batur, karena kita singgah dulu ke Pasar Seni Sukawati, pastinya kalo pingin yang murah-murah di Bali harus singgah kesini, tapi kalo kesini persiapkan mental anda, dan harus konsisten serta harus berani nawar dengan harga rendah, kalau tidah, hahaha rugi Anda! sebelum masuk ke Pasar, akhirnya kita makan Bakso/ Mie Ayam, yang jual orang jawa dan muslim kok dan Bakso juga Bakso Sapi, hehe, dengan harga seporsi 12 ribu dan es teh 3 ribu, letaknya juga dekat dengan Pasarnya.
Setelah perut terisi dari keknyangan yang melanda, langsung persiapkan mental, Adam dan Evita pengen kencing, dan kencing di Pasar, bayar 2000, itu biasa yang unik itu wkwkwkk, baunya, beuhhh, jorji banget tu toilet, aku juga kencing tapi pas selesai ke pasar, udah udaranya pengap, bau rokok, kencing jadi satu dan kebersihannya NOL, alias kotor banget uwekkk.. :v Setelah menunggu Adam Evita kencing, langsung masuk ke pasarnya, hehehe, tulikan sementara kuping anda disini, karena disini para penjualnya suaranya lantang-lantang, bilang “ayo dek sini dek murah kaos 25 ribu dua”, “ayo dek sini dek murah meriah dekk”, “cepet dekk sini aja”, ada juga yang sampai menarik tangan wkwkwk, pokoknya ati ati aja. Banyak sekali yang bisa dibeli disini, ada berbagai pakaian (kaos, daster, celana, baju), gelang, pernak pernik, coverbed, lukisan khas bali, sampai pie bali, salak bali, kacang bali juga adaa..
Sampai ke ujung pasar, tidak sengaja melihat orang main judi remi hahaha, terus kita dimarahin, “ngapain kesini, kesana kesana!” wkwkw diusir njir, dan menurut saya mending kalo mau beli sesuatu disini pilih toko yang memng lengkap dan beli di toko itu aja, biar makin dapet diskon banyak haha. sayapun membeli beberapa pakaian, baju anak-anak 2 tahun, 2 setel aslinya 1nya 35 ribu jadi dapet 2setel 35 ribu wkwkwk, 35 ribu 2 celana pendek, 45 ribu kaos ukuran XXL, 30 ribu daster, dan 15 ribu udeng putih hehe..  habislah 145 ribu wkwkwk. Ngakaknya disini, penjual satu sama lain kayak cek cok manjah gitu, saling memperebutkan pembeli, malah ada yang bilang “disini aja dek, disitu nggak ada apa-apa” wkwkwk LOL banget nggak sih, ini namanya persaingan panas, haha.
Setelah membeli pakaian, kita langsung jalan-jalan ke pasar utamanya, disana layaknya pasar pada umumnya, ramai dan menjual aneka macam barang dan bahan makanan, namun ada juga yang menjual khusus perhiasan, akupun membeli gelang yang awalnya harganya 10 ribu perbiji, aku beli 10 ribu 4 biji wkwkwk, emang disini mulut lamis dibutuhkan, harus berani nawar, kalo nggak ya alamat diboongin wkwkw. Selanjuatnya aku membeli Pie Susu yang enakkk dengan harga 20 ribu isinya 12 pie, biasanya di Surabaya dijual 3.500 per biji lho.. aku beli 2 pak, dan juga beli kacang bali juga harganya 20 ribu, kacangnya enak juga, rasanya asin manis gitu wkwkwk. ngga kerasa di Pasar Sukawati ngabisin uang 210 ribu hiksss penghabisan L
Setelah puasss berbelanja dan duit sudah menipiss, langsung cus balik hotel, haha sesampainya di hotel sudah jam 6 sore. Dan hal yang patut tidak dicontoh adalah menginginkan makanan yang di daerah asal ada wkwkwk, Iya si begundhal Adam dan Cike (Cindy Kecirit) pengen Mie Kober (Mie Setan) yang letaknya cukup dekat dengan hotel mutiara, dan memang masih daerah Denpasar Selatan. ya akhirnya setelah mandi, langsung jam 8 cus ke Mie Kober wkwkwk, yah rasanya sama aja seperti di Surabaya, dan musti kalo disini bawa minum tambahan wkwkwk karena memang pedas, butuh air banyak hehe, dan antrenyaaaaa juga panjangg. Dengan segala kekhilafan atas keborosan ini menghabiskan 31 ribu rupiah dalam makan malam ini :v karena 1 porsi mie setan (9ribu) + es genderuwo (9ribu) dan dimsum (9ribu) plus pajak, hahah menjadi makanan termahal dalam wisata kali ini. Setelah kenyang makan, dan balik deh ke Hotel Mutiaraaaa... dan mulai untuk packing pulangg.
Terasa begitu sangat cepat dan sebenarnya kurang puas, harusnya 7 hari liburannya karena memang perjalanan pergi-pulang juga lamaaa.. tapi besok harus balik ke Surabaya, karena budget juga udah mau abis wkwkwk, setelah packing, udah mau tidur tiba-tiba temenku mau nitip udeng, hmmm, yaudah aku mau beliin, tapi bingung juga kemana... sayonara, bubukk dehhhh sekitar jam 11 malem...
Rencana check-out kita jam 2 pagi, tapi ya karena memang terlalu capek setelah dari Kintamani dan terlalu malam pula kita tidur, akhirnya molorrrr sampai jam 6 pagi! alhasil langsung mandi dan cepet-cepet check out, karena kita nggamau nyampe Surabaya terlalu malam, dengan membawa segala perabotan pakaian kotor, dan makanan yang nggak habis hmmm... masuk masukin ke mobil, dan cusss, otw su-ra-ba-ya. Kali ini alhamdulillah kondisi supir Adam, sehat wal afiat, jadi perjalanan juga normal, lumayan kenceng, jam 10 sudah sampai Pelabuhan Gilimanuk, untungnya di Pelabuhan banyak orang berjualan oleh-oleh juga, akhirnya aku membeli udeng, kualitasnya bagus sih seharga 17 ribu rupiah, itupun dengan perjuangan yang tidak mudah, saling tawar menawar dengan penjualnya wkwkwk, sempat ibunya mau 20 ribu, kukuh 20 ribu, akhirnya kita juga beli baju juga dan dapatlah udeng 17 ribu, setelah bayar, eh, ibunya ngembaliin seribu pake permen, si Evita nggak mau, wkwkwk nggak nggak buk, uang aja LOL, payah ya wkwkwk keterlaluan, tapi ya emang sih kan emang ngga boleh kembalian pakai permen itu. Kalau orang itu bilang boleh aja, yaudah bilang aja emang boleh udengnya aku beli pakai permen juga hahahahahaha, setelah itu akhirnya kita nyebrang manjah ke Pulau Jawa.
Tidak seperti berangkat, kita dapat kapal yang kurang nyaman, karena kursinya satu-satu dan bukan kursi panjang, udah gitu nggak empuk juga kursinya hmmm.... jadi ngga bisa tidur dehh... hanya bisa menikmati angin yang semilir... Sesampainya di pelabuhan ketapang banyuwangi, langsung aja, tancap gas menuju jalan yang sama dilewati ketika berangkat. Dalam perjalanan ini, semua pada pengen PUP wkwkwkw, namun karena trauma dengan toilet sukawati yang begitu, kitapun mampir ke beberapa POM dan mensurvey dulu kondisi toiletnya wkwkw, dan menemukan toilet POM yang bersih, cirinya ada penjaganya pokoknya, airnya pun segarrr dan bening. Ini toilet terbaik memang, meski harus bayar 2 ribu tapi puassss... hahahaha, perjalanan panjang pun dilalui, Banyuwangi-Situbondo-Probolinggo-Pasuruan, dan di Bangil lagi dan lagi, jalannya ancur banyak lubang besar dan juga macet parah, karena jembatan rubuh, yang 4 hari lalu membuat perjalanan berangkat macet juga hehehe, di perbatasan bangil dan sidoarjo, si Adam udah mulai ngerasa kecapekan wkwkwk, iya ya lah orang dia juga ngga istirahat setelah ke toilet, dia kukuh pengen lewat tol, yah awal-awal macet di daerah porong, akhirnya lewat tol jugaaaa.
Karena aku ngeliat adam moodnya buruk plus pasti capek banget akupun bilang yowes berhenti di rumah Cindy aja, bogangin, ngga usah ke rumahku. dan sesampainya di rumah Cindy, aku bingung mau balik pake apa ini wkwkwkk, mau pake uber, gojek atau apa, tapi aku ngeliat banyak motor dirumah Cindy, yaudah aku pinjem satu, dan yeay pake motor Cindy, balik ke Gubuk di Sukodono, Sidoarjo yang jaraknya 10 km dari rumah Cindy. Perjalanan ke Bali selesaiii, nyampe rumah langsung mandi, dan tidurrrr... hehe besok paginya mau liat Coronation Night of Miss Universe 2016 hahaa. Sampai jumpa dicerita Hesbol selanjutnya! JJJJ


beginilah kondisi mobil bagian belakang ketika pulang wkwkwk

Lihat sebelumnya  >>

Ditulis oleh     : Aditya Hidayatullah (@amorabista)
Tim Hesbol     :
1. Adam Surya Romadhon (@adamsurya17)
2. Evita Kumala Dewi (@evitakumalad)
3.  Cindy Rahmasari (@cindyrahmasari_)
Sumber Gambar : Penulis dan Tim Hesbol

C a t a t a n :
- Boleh berupa kritik membangun dan saran
- Usahakan komentar tidak menyinggung
- Tidak mengandung kata-kata kasar
- Tidak berbau porno
- No spam, termasuk promosi iklan

 
Top