Hai, Sawatdee Khrab! Sabai dee? Haha, eitss kali ini bukan membahas mengenai bahasa Thailand, namun akan membahas tentang STNK yang berpaling, alias menghilang dalam genggaman. Jadi gini ceritanya tertanggal 20 Maret 2017, ada ini salah satu matakuliah yang melelahkan karena hampir tiap minggu ada tugas dan tugasnya itu buanyakk dan susaaahh, mengubah data mentah menjadi data statistik, tahu lah apa, ya STATISTIKA REKAYASA. Dan pada tanggal tersebut besoknya itu sudah deadline tugas dari seminggu yang lalu (wkwkwkk dasar deadliners) tugasnya itu kelompokan, nah saling pada kebingungan kan, dan belum paham sama materinya apalagi tugasnya hehehe, padahal kumpulin tugas sambil presentasi ke dosennya langsung. Jadi, beberapa kelompok yang kebingungan jadi ingin ngerjain tugas bareng, cara sama cuman data yang berbeda. Sore harinya 3 kelompok pertama yang maju, melakukan diskusi bersama dan mengerjakan tugas bersama di gazebo jurusan sebelah, dan tetap saja masih kebingungan, berlanjut sampai malam. Sekitar pukul 7 malam, karena kondisi makin gelap dan banyak nyamuk, kami pindah tempat ke kos salah satu dari teman kami cewek sebut saja si Ema, karena dikosannya ada ruang tamunya dan diperbolehkan mengajak cowok juga. Bergegas kami berpindah tempat ke kosnya si Emma.

Sebelum berpindah tempat, STNK aku, aku letakkan di atas laptop bersama kunci sepeda karena sehabis dipinjem teman, dan berpindah tempatpun STNK aku masukkan dalam saku dan keluar parkiran juga memakai STNK seperti biasanya, tidak lama sekitar 7 menit perjalanan sampailah di kosan si Emma, dan ternyata ruang tamu di lantai 2, sedikit rasa sungkan karena itu kosan cewek, dan kami ber9 orang dengan 3 orang cowok. Dan saya merasa STNK-ku masih ada di saku aku, dan aku mengeluarkannya bersama dompet dan handphone karena merasa risih, dan seingat saya, ku letakkan diatas sofa yang empuk itu :3, dan akupun terlupa akan hal itu, mungkin terselip diantara sofanya atau bagaimana tapi ngga tahu juga hehe...

 Entah kebanyakan ngomong atau memang pada bingung, pengerjaan tugas pun belum kelar sampai tengah malam pukul 00.00 berganti hari, hari-h pun datang, dan kami belum selesai mengerjakan, dengan banyaknya pendapat dan cara yang berbeda sehingga pada bingung wkwkwk. Tidak pernah aku semalam ini dan akan balik ke Sidoarjo dari ITS, biasanyapun aku balik masih pukul 00.30 WIB, namun kali ini waktu sudah menunjukkan pukul 01.15 WIB, 2 jam lagi subuh. Dan dengan pengerjaan tugas dengan keyakinan rendah, akhirnya selesai pukul 01.35 WIB, dengan cepat kamipun balik ke rumah/kos masing-masing, dengan sadar/tidak aku juga lupa STNK ku entah aku bawa atau tidak, kalaupun masih ada sepertinya aku taruh di saku celana sebelah kiri, dan dompet ku taruh di saku kanan, untuk HP juga ku taruh disebelah kiri. Entah apa yang membisikku, baru di dalam kompleks kosnya, aku mengambil HP dan meihat jam, jam menunjukkan pukul 01.38 WIB dini hari, dan ingin bisa menempuh perjalanan ITS-Sukodono 30 menit saja hehehe, entah disitu STNK aku sudah jatuh ketika aku ambil HP, atau belum.
Ini Video Ketika Aku dan Teman-Teman Belajar Bersama di Kosan Emma

Dengan perjalanan seperti biasanya, apabila di malam/ dini hari selalu sepi jalanan, rasa deg deg an was was akan begal atau penjahat pasti ada, dan teman-teman yang lain juga iba padaku, mereka menyuruhku tidak balik ke rumah tapi tidur kos dulu karena bahaya. Namun, dengan keyakinan yang haqiqi, aku merasa belum ngantuk dan masih bisa balik juga, karena sudah biasa pulang dini hari. Di perjalanan suhu dijalan sangat dingin, dan jalanan yang sangat lengang, membuatku sedikit takut, dengan orang-orang yang jahil. Belum jauh dari ITS, tepatnya 1 km dari bunderan ITS yakni di Jalan Kertajaya, tiba-tiba, ada lubang besar didepanku, dan memang apabila jalan lengang kita pastinya berkendara dengan kecepatan tinggi. Belum sempat aku rem motor, sudah kena lubang besar itu, dan sedikit oleng untunglah tidak sampai jatuh. Namun, tiba-tiba hal aneh saya rasakan, motor menjadi tidak stabil alias sedikit oleng, dan ku rasa ada yang tidak beres dengan ban belakang.

Ternyata, nasib buruk terjadi padaku, di tengah malam, dengan kesunyian jalan, ban motorku bocor, dan sangat membahayakan apabila aku lanjutkan perjalanannya, akhirnya saya tuntun motornya, dan pertama saya singgah di POM Bensin Kertajaya, kerena haya disana ada kehidupan dan dengan harapan saya bisa bertanya tempat tambal ban yang masih buka di tengah malam. Sesampainya di POM Bensin, saya membuka HP dan menghubungi teman saya, yang ikut kerja kelompok tadi, namun belum ada respon. Saya langsung bertanya kepada mas SPBU, dan katanya ada tambal ban 24 jam tapi lumayan jauh mas, di Pucang :’ (sekitar 5 km dari SPBU tersebut).Dengan sedih dan muka melas, mendengar pernyataan itu, masnya pun tak tega, dan diarahkan ke tambal ban yang mungki masih buka. Dengan keinginan dan harapan yang tinggi kalau bannya hanya kurang angin bukan bocor, aku langsung mencoba mengisi angin di SPBU, dan dibantu mas yang lain, hehehe (awalnya kayak orang bego, gk bisa cara pakai alatnya), dan memang lagi diuji, memang benar itu bannya bocor, ban di pompapun masih ngowos anginnya. :”””

Akhirnya kucoba berjalan kaki, dengan rasa sedikit was-was dengan kondisi sekitar karena memang sangat sepi sekali, dan aku hanya menuntun sepeda motor, hanya beberapa sepeda motor yang lewat, yang semakin membuat hatiku berdebar-debar (ceileh), namun tetap yakin Allah pasti melindungiku :”), mungkin masih menempun 1 km aku ngga kuat, capek banget, jalannya gedhe banget lurus pula, sehingga ku berjalan seperti tidak sampai-sampai. Dengan fisik menggos menggos, ujung-ujungnya aku pakai saja motornya asalkan tidak terlalu kencang,  dengan sensai bergoyang goyang dalam menaiki sepeda motor, dan kepala berputar mencari tambal ban yang tersisa, dan berkali-kali bertanya, akhirnya sampai di perempatan Samsat Manyar, katanya di sebrang kirinya ada tukang tambal ban yang buka sampai malam, tapi dengan lemas aku tidak melihatnya, dan bertanya dengan bapak di sana, katanya baru 10 menit tutup mas, hmmmm, harus diuji lebih jauh ini (rasa hatiku).

Aku langsung melanjutkan perjalanan goyangku, dengan kecepatan 5-10 km/jam aku tidak sampai-sampai pula, dan melewati perempatan kedua, saya kebingungan mencari alamat yang dimaksud, karena memang saya tidak hafal nama di Surabaya wwkwk, sudah beberapa kali aku cek HP, masuk keluarkan berkali-kali, nah disini aku menduga STNK ku juga jatuh ketika aku mengambil-memasukkan HP berkali-kali. Dengan bertanya kepada siapapun, akhirnya dengan perjuangan, sampai ke tambal ban yang dimaksud. Bapakya sudah lumayan sepuh yang membantu saya menambalkan ban. Dengan hati yang senang, melihat tambal ban saja itu seperti halnya melihat sang kekasih yang sudah lama tak bertemu, hehehe, kalau yang untuk jomblo perumpamaannya bisa seperti melihat air di gurun pasir, hhaha, pasti senang sekali dan lega rasanya. Sampai di tambal ban waktu menunjukkan pukul 02.17 WIB, satu jam menuju shubuh, hehehe.

Namun pada waktu itu, aku tidak menyadari kalau aku sudah kehilangan STNK. menunggu sekitar 20 menit, akhirnya tambal sudah selesai dengan membayar 15 ribu rupiah. Rasa senang dan buahagia akhirnya motor sudah siap touring balik ke sidoarjo. Dalam perjalanan pulangpun aku tidak menyadari STNK aku ada dimana. Pukul 02. 55 WIB akhirnya aku sampai dirumah Sidoarjo. Dan balik, seperti biasa pengecekan barang kulakukan, dan jreng...jreng.. STNK aku tidak ada, sampai aku cari di baju-baju/jaket atau terselip buku, dll. Namun tidak ketemu juga.Sungguh nasib sialku pada waktu itu, sudah balik pagi, PPT tugasnya juga belum, ban bocor, STNK hilang juga, miris sekali bukan? :’(

Setelah mengetahui STNK aku hilang, aku langsung lemes, dan berharap besar, ada orang yang menukannya dan mengembalikannya di rumah, hehehe, seperti dulu, hilang di Masjid Al-Akbar Surabaya, langsung pada hari itu juga, dibalikin STNK nya. yaudah dengan harap-harap cemas, semoga ada yang mengembalikannya. Dan aku tidak berani bilang ke orang tua kalau STNK aku hilang. Aku sangat pusing memikirkan STNK yang  hilang. Kutunggu selama beberapa hari, STNK pun tak kunjung balik wkwk (berharap banget bisa balik sendiri) padahal hilangnya pun tidak tahu persis dimananya. Terpaksa aku ketika kuliah parkir di masjid kampus (karena tidak memakai STNK) dan jalan kaki sejauh 1,5 km ke jurusanku tiap harinya, tidak hanya itu tapi juga selalu merasa deg deg an apabila di jalan raya takut ada razia polisi hehehe (sama seperti ketika aku belum punya SIM dulu).

Suatu ketika, dihari yang cerah (ceilah, aku memberanikan diri untuk bilang kalau STNK nya telah hilang kepada orang tua Sayapun disuruh mengurusnya sendiri dan tidak langsung dikasih uang. Hmmm aku langsung bingung, dan mungkin berkali kali aku searching di mbah google dan juga tanya teman-teman mengenai cara pengurusan STNK yang telah hilang. Tanggapan merekapun bermacam-macam. “Eh, mahal tahu ngurusnya, sampai 300ribuan”; “Ih, kobisa ilang sih?, ribet banget lho ngurusnya!” begitulah rata-rata mereka berpendapat, sehingga membuatku merana, sedih dan menyerah, selalu menunda-nunda dan aras-arasan untuk mengurusnya karena katanya “ribet” itu.

Selang 2 minggu kemudian, aku pulang dari kampus pukul 10 malam, seperti biasanya melewati semolowaru, dan awalnya nyantai, dan pada jarak 25 meter didepanku ternyata ada razia polisi, hmmm padahal setelah tikungan jadi jantung ini serasa berdetak dengan kecepatan maksimum, sontak akupun langsung minggir ke kiri, nenangin diri dan didepan ku sekitar 10 meter banyak anak remaja jalanan begitu lagi nungguin razia juga, dan hmmm salah satu polisi menghampiri mereka, detak jantungku makin kencang dan tubuh langsung lemas, tidak bisa putar balik karena jalannya satu arah saja, tiba-tiba saja pintu gerbang rumah sebalhku terbuka, dan eng in eng 2 bapak-bapak keluar, polisi yang menghampiri anak-anak tadi langsung menyuruh anak-anak remaja itu untuk ikut di razia, dag dug dag dug, pak polnya nyuruh aku juga nggak ya, dalam batinku...

Ternyata, aku tidak dipanggil.. mungkin gara-gara bapak-bapak tadi dan kiranya memang aku mau kerumah itu, dan salah satu dari bapak tadi, peka kalau aku lagi menghindar razia itu, heheh, langsung aku ngomong “iya pak, saya ngga bawa STNK, hhehehehe (padahal juga ilang)” bapaknya langsung pengertian dan langsung menyuruhku langsung putar balik saja, nggapapa, iya ngggapapa, dengan keyakinan seratus persen dan si polisi juga ngga ada yang liat, langsung ku tancap gas, putar balik.... Brrrr..... seperti maling saja sumpah... hiks astaghfirullah.... Untung alhamdulillah ku terselamatkan. Aku dengan was-was mengendarai dari rumah, liat-liat takut ada razia hehehe, dan untung tidak ada lagi.

Dan untuk selanjutnya aku harus berkomitmen ngga boleh pulang lebih dari jam 9 malam, karena pasti gencar- gencar nya ada razia, yahhh itu demi mengamankan Kota Surabaya yang sering sekali ada pencurian motor, dan juga terkadang ada begal juga. Saking sibuknya acara kampus dan magernya mengurus STNK yang telah hilang itu, hampir 2 bulan kemudian, aku berkendara tanpa STNK! dan untungnya ngga pernah kena polisi, baru sekali dan hampir kena wkwkwk. Ribet banget nggaada STNK itu, kemana-mana was-was, keparkiran saja was-was, ke mall nebeng :3, takut dimintain STNK dulu, hmmm... Sekalii saja dah kayak begini.

Lihat Kelanjutannya >>

Ditulis oleh Aditya Hidayatullah
Sumber Gambar : Penulis

C a t a t a n :
- Boleh berupa kritik membangun dan saran
- Usahakan komentar tidak menyinggung
- Tidak mengandung kata-kata kasar
- Tidak berbau porno
- No spam, termasuk promosi iklan

 
Top